Tampilkan postingan dengan label cara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cara. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 September 2016

Cara Budidaya Jamur Tiram Putih


Jamur tiram salah satu tanaman yang memiliki nilai ekonomis dan gizi yang tinggi. Permintaan pasar terhadap jamur tiram putih bisa dikatakan tidak tercukupi, jarang sekali kita temukan penjual jamur tiram putih yang tidak kehabisan stok dalam sehari. Untuk itu sudah selayaknya kita melirik usaha budidaya jamur tiram putih ini sebagai salah satu alternatif bisnis sampingan. Perawatan dan cara membudidayakan jamur tiram putih tidaklah sulit, sehingga bisa dijadikan bisnis sampingan saja. berbeda halnya dengan budidaya tomat dan cabai dimana kedua tanaman itu tidak bisa dijadikan pekerjaan sambilan.

jamur tiram
(Gambar jamur tiram)
Sekilas tentang jamur

Untuk memenuhi kebutuhan protein asam amino pada manusia sebaiknya konsumsi jamur kayu ini, jamur tiram mengandung 31 % protein, dengan demikian jamur ini pun turut serta menyehatkan bagi siapa saja yang mengkonsumsinya, jamur tiram termasuk jenis jamur kayu yang dapat dimakan, jamur ini memiliki rasa khas disamping kandungan nutrisinya yang tinggi, selain bisa dijadikan sayuran jamur juga bisa dibuat menjadi penganan lain, misalkan keripik dan kerupuk, demikian pula dengan jamur shiitake.

Jamur tiram dan jamur shiitake merupakan dua jenis jamur yang paling banyak dibudidakan, selain enak jamur ini juga mengandung enzim yang baik untuk kesehatan, seperti jamur shiitake, pada jamur ini terdapat asam amino yang mampu meredakan serangan virus influenza, dan menghambat pertumbuhan kanker, selain itu shiitake juga mengandung vitamin B1, B12 dan D12, untuk jamur kuping lendir yang terdapat pada jamur kuping dipercaya dapat menetralkan kolesterol dalam darah.

Untuk membudidayakan jamur tidaklah terlalu sulit, disamping itu budidaya jamur juga tidak memerlukan lahan yang luas, jadi usaha ini sangat prospek sekali untuk menambah penghasilan, selain itu limbah hasil budidaya jamur juga dapat diubah menjadi puuk dan bahan yang baik untuk menggemburkan tanah.

Apa saja bagian yang diambil untuk konsumsi dari jamur ini ?

Umumnya tubuh jamur terdiri atas akar, batang (stipe), cincin dan tudung (pileus), tudung terdiri atas bilah-bilah lamella yang pada permukaan bawahnya terdapat spora, bagian yang diambil untuk dipanen dari jamur ini adalah tubuh buah jamur.

Prosedur budidaya jamur tiram putih di blog ini ditulis secara garis besar saja dan lengkap dengan caranya, diharapkan petunjuk budidaya ini mampu anda kembangkan sendiri sehingga dapat menghasilkan produksi jamur tiram yang baik. Adapun bahan-bahan yang diperlukan untuk budidaya jamur tiram adalah sebagai berikut:

1. Bibit, dalam hal ini usahakanlah bibit jamur tiram yang baik, apalagi bila anda termasuk sebagai pemula dalam budidaya jamur tiram maka sebaiknya belilah bibit yang berkualitas sehingga tidak terjadi kekecewaan pada proses budidaya.

2. Media hidup, diperlukan beberapa bahan untuk wadah budidaya jamur tiram. Sewajarnya tanaman selalu memiliki media tumbuh, umumnya tumbuhan memerlukan tanah sebagai media hidup namu untuk jamur tiram tidak dibutuhkan tanah sebagai media hidup. Media hidup jamur tiram antara lain; dedak, sekam padi, serbuk gergaji, tepung jagung, kapas dan saat ini ada juga petani jamur yang telah mencoba membudidayakan jamur tiram putih dengan media kardus bekas dan lain-lain.

3. Pengatur PH, dalam budidaya jamur dibutuhkan PH media hidup yang baik yakni berkisar 7, biasanya pengatur PH yang digunakan adalah tepung dolomite. Tepung dolomite murni warnanya putih bersih, dan dolomite yang terkontaminasi dengan besi umumnya berwarna putih kemerahan. Sebaiknya gunakan dolomite murni, dapat dibeli di toko pupuk pertanian.

4. Wadah, untuk wadah budidaya jamur tiram dapat digunakan pelastik besar (polibek besar), kotak kayu, tong atau dorom dan lain-lain.

Selanjutnya cara untuk memulai pembudidayaan jamur tiram putih, sebagai berikut:

Pertama siapkan media yang akan kita gunakan untuk budidaya ini, salah satu media yang bisa anda buat adalah serbuk gergaji + tepung jagung + dedak. Adapun perbandingan dari bahan-bahan untuk media budidaya jamur tiram tersebut adalah; 75% + 15 % + 10 % dan semua diaduk dengan menambahkan air hingga kelembapan 60 %. Ciri-ciri kelembapan 60% media terasa basah jika digenggam, namun bila media digenggam dan diangkat tidak terjadi tetesan air. Setelah media tercampur merata tambahkan tepung dolomite untuk mengontrol PH media menjadi tujuh. Alat pengukur PH adalah kertas lakmus bisa dibeli di apotek.

Selanjutnya masukkan media tersebut kedalam wadah (plastik) sekalian dipadatkan lalu tutupi dengan kapas. setelah wadah dan media disiapkan maka tiba waktunya menanam bibit jamur. Bibit jamur ditabur atau ditanamkan di bawah kapas, jadi angkatlah kapas penutup media dan taburkan bibit lalu tutup kembali media tersebut dengan kapas. sampai disini bisa dikatakan 70 % kegiatan budidaya jamur telah terlaksana. Lama masa pertumbuhan jamur tiram hingga panen adalah selama 40 hari sejak penaburan bibit hal ini sama halnya dengan masa panen dari cabe merah keriting. kegiatan pemeliharaan yang dilakukan setelah tahap ini hanyalah kegiatan rutinitas penyiraman dan mengontrol sirkulasi udara yang rutin dilakukan setiap hari.

Untuk anda yang ingin membudidayakan jamur dengan cara yang lebih teratur dapat dilakukan persiapan seperti dibawah ini. 

Pembuatan Rumah Jamur (Kumbung)

Sebenarnya untuk membuat kumbung atau rumah jamur, perlu disesuaikan dengan kebutuhan jumlah log tanam yang akan dibudidayakan, misalkan anda ingin memelihara sebanyak 500 � 1000 buah log tanam, maka diperlukan bangunan ukuran 6 m panjang x 4 m lebar x 4 m tinggi, bangunannya bisa dibuat dari kayu atau bamboo, dengan lantai bata merah, atap genting, untuk jamur tiram dan jamur kuping dapat dibuat berbilik-bilik, sedangkan untuk anda yang membudidayakan jamur shiitake bisa digunakan dua lembaran jaring plastic (kain kasa) berukuran kecil dan berwarna gelap.
Kumbung tempat jamur
(Contoh rumah tempat budidaya jamur)
Berikut ini kita sajikan tahap pembuatan media bibit induk, bisa dilakukan untuk anda yang membudidayakan jamur tiram dan jamur kuping.

1. Siapkan bahan baku yang terdiri atas biji-bijian atau campuran serbuk kayu gergaji albasia (SKG) ditambah biji millet dengan perbandingan 1:1

2. Bahan diatas dicuci dan direbus selama 30 menit menggunakan pressure cooker atau dengan pand, kemudian tiriskan sampai kering.

3. Setelah itu tambahkan kampur (CaCo3) 1%, gypsum (CaSO4) 1%, vitamin B kompleks atau bekatul 15%.

4. Bahan diatas dimasukkan kedalam baglog polipropelin atau botol susu sebanyak 50 � 60 % volume wadah, kemudian sumbat dengan kapas/kapuk dan tutup dengan kertas Koran atau alumunium foil.

5. Untuk anda yang memiliki autoclave, bahan-bahan diatas disterillkan pada suhu 121 derjad celcius, selama 2 jam, atau pasteurisasi selama 8 jam pada suhu 98 derajad celcius.

6. Setelah suhu media bibit turun sampai suhu kamar, lakukan inokulasi dengan bibit sebanyak 2 � 3 koloni miselium per botol, langkah ini dilakukan didalam laminar.

7. Media yang sudah diinokulasi, diinkubasikan dalam ruang incubator pada suhu 22 � 28 derajad celcius, selama 15 � 21 hari.

8. Botol/ baglog berisi bibit atau disebut spawn dikocok setiap 3 hari agar pertumbuhan misellium bibit jamur dapat merata dan cepat serta tidak menggumpal dan mengeras.

9. Setelah miselium jamur tumbuh dengan merata dan menutupi media, dapat digunakan sebagai bibit induk dan dapat disimpan dalam lemari pendingin bersuhu 4 derajad celcius selama 1 tahun bila tidak akan segera digunakan.

Perlakuan pembuatan bibit induk untuk jamur shiitake

1. Siapkan serbuk kayu gergaji sebanyak 8 kg, usahakan serbuk kayu yang berasal dari kayu keras, seperti jati, karet, atau dicampur dengan albasia, kemudian rendam serbuk selama 12 jam.

2. Kemudian setelah 12 jam tiriskan sampai tidak ada airnya menggunakan saringan kawat/ ayakan besar.

3. Tambahkan bekatul/ polar pakan ayam DOC sebanyak 7,5 kg, gypsum (CaSO4) 2 kg, dan air bersih kemudian aduk sampai merata hingga kadar air substrat mencapai 65% dan pH7.

4. Substrat dimasukkan dalam baglog polipropilen, kemudian padatkan, dan beri lubang, pada bagian tengah diberi cincin dari paralon dan ditutup dengan kapas atau kertas minyak.

5. Media tersebut disterillkan atau dipasteurisasi dengan cara disimpan dalam kamar uap, atau dalam drum dengan suhu media didalam baglog 95 derajad celcius selama 8 jam.

Langkah 1 � 5 diatas dilakukan pada hari yang sama.

Setelah suhu baglog turun sampai suhu kamar, lakukan inokulasi substrat dengan spawn, inokulasi dilakukan dalam laminar, jumlah bibit yang digunakan 10 � 15 g/kg media.

6. Baglog yang sudah diinokulasi dengan spawn diinkubasi dalam rumah jamur/ kumbung, ruang inkubasi dijaga agar tetap kering dan bersih, pada suhu 22 � 27 derajad celcius tanpa cahaya, RH 95 � 100 %, CO2 besar dari 10.000 ppm, O2 0 � 1 jam (kapasitas terpasang), inkubasi umumnya berlangsung selama 8 � 12 minggu.

7. Setelah 7 � 15 hari baglog dibuka/dipotong bagian atasnya, dan cincin serta sumbat kapas dibuka, cara membuka baglog berbeda-beda, yaitu dengan dibuka lebar bertahap mengikuti terjadinya browning atau dibuka sekalgus setelah browning lebih besar 75%.

8. Setelah bakal tubuh buah tumbuh, dilakukan penyiraman dengan air bersih agar jamur dapat tumbuh, penyiraman dengan cara pengabutan 3 kali sehari dengan air secukupnya, suhu rumah jamur dijaga antara 21 � 27 derajad celcius, dengan kelembapan 60 � 80 %, cahaya 500 � 2000 lux (dengan lampu atau jendela dibuka), ventilasi 4 � 8 jam dengan kadar CO2 kecil dari 1000 ppm.
jamur shiitake
(Jamuir Shiitake)

Masa panen dan pasca panen

Panen jamur tiram maupun jamur kuping dapat dilakukan lebih dari 9 kali dalam waktu 3 bulan, tergantung pada cara pemeliharaannya, penyiraman dan kebersihan kumbung, panen dilakukan 2 � 3 kali dalam seminggu.

Untuk bisa mencapai masa panen maksimal kesegaran jamur bisa dipertahankan dengan cara menyimpannya pada suhu 1 � 5 derajad celcius, dan melakukan penyemprotan menggunakan larutan Na-bisulfat 0,1 � 0,2 % (1000 � 2000 ppm), pengawetan jamur dapat dilakukan dengan cara pengeringan, pengasapan dan pemberian senyawa kimia seperti garam dapur, asam nitrat, sulfide, K-bikarbonat dan K-meta-bisulfida.

Sedangkan untuk jamur shiitake panen dapat dilakukan lebih dari 5 kali dalam waktu 5 � 8 bulan, tergantung juga pada cara pemeliharaan, penyiraman, kebersihan kumbung, dan strain yang digunakan, penanganan pasca panen jamur shiitake dilakukan dengan langkah-langkah yang sama seperti jamur tiram dan jamur kuping.

Nah pemirsa demikianlah tadi tentang cara membudidayakan jamur yang bisa dimakan, lengkap dengan teknis pelaksanaannya, sampai jumpa dipembahasan selanjutnya.

Salam �

Sabtu, 28 Mei 2016

Cara Membuat Buah Pinang Tetap Berat Ketika Dijual

Cara Membuat Buah Pinang Tetap Berat Ketika Dijual
Buah Pinang masak dibatang
Tanaman yang satu ini dipastikan bisa tumbuh dan hidup diseluruh wilayah Indonesia, meski harganya tidak terlalu menarik untuk dijadikan bisnis penopang penghasilan rumah tangga, namun tetap saja pinang banyak ditanam dan dibudidayakan masyarakat.

Ada banyak hal yang membuat pinang ditanam dan dipelihara, diantaranya sebagai pagar, sebagai patok batas, dan sebagai hiasan tergantung dari jenis pinangnya, namun yang umumnya dilakukan masyarakat Indonesia, pinang ditanam sebagai pengganti pagar halaman dan hiasan taman.

Buah pinang digunakan untuk pembuatan berbagai kebutuhan manusia, diantaranya sebagai campuran bahan pewarna, obat-obatan, dan juga sebagai bahan makanan sebagaimana banyak ditemukan di Papua dan wilayah timur Indonesia lainnya, dahulunya pinang sering digunakan orang sebagai buah simbolis ketika hajatan, sehingga ketika mengundang seseorang seringkali pinang diberikan sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu yang akan diundang.

Batang pinang jika ditanam sekitar tiga atau empat batang, memanglah tidak bisa diandalkan untuk membantu ekonomi keluarga, hal ini karena harga pinang di pedangan pengumpul seringkali dibandrol sangat rendah, sehingga tidak terlalu menarik selera masyarakat untuk membudidayakannya dalam skala yang cukup luas, seperti tanaman karet atau kelapa sawit.

Di Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan misalnya, kebanayak buah pinang dibiarkan saja terbuang ketika jatuh dari tangkainya, hal ini mungkin karena disana tidak ada atau tidak banyak pedangan pengumpul yang menerima buah pinang, disamping itu harganya barangkali juga tidak terlalu menarik untuk dibicarakan, sedangkan di Provinsi Sumatera Barat, hampir ditiap kabupaten masyarakatnya mengumpulkan dan menjual buah pinang, meski harganya terkadang cuma dibandrol sekitar empat ribu rupiah perkilonya.

Buah pinang meski tidak termasuk kepada komoditi yang dibanggakan untuk menunjang ekonomi keluarga, tidak ada salahnya pula kita coba memberikan tips ringan, bagaimana buah pinang yang sudah dikupas kulitnya tetap berat ketika dijual kepada pedangan pengumpul, nah bagi anda yang suka atau hobi mengumpulkan buah pinang silahkan simak tips berikut ini.

Agar buah pinang tetap berat ketika dijual maka cara berikut ini bisa dimanfaatkan

1. Buah pinang yang akan dijual sebaiknya buah yang sudah matang seutuhnya, warna buah pinang yang sudah matang biasanya berwarna kuning orange.

2. Buah pinang yang akan dijual sebaiknya tidak dibelah dua, hal ini karena buah pinang yang bulat utuh akan lebih berat dibanding buah pinang yang sudah dibelah.

3. Jemur buah pinang dibawah terik sinar matahari langsung sampai kering, sehingga mudah untuk dikupas kulitnya, tips untuk mengupas buah pinang secara sederhana adalah dengan memanfaatkan batok tempurung kelapa, batok kelapa yang terdapat lobang ditengahnya dijadikan sebagai penahan ketika buah pinang dikupas dengan cara memukulnya.

4. Jangan simpan buah pinang didalam ruangan tertutup dalam jangka waktu dua hari, karena hal tersebut akan menimbulkan jamur pada bagian tengah buah pinang yang sudah dikupas kulitnya, jika sudah berjamur maka bagian dalamnya akan ikut terkorosi sehingga menurunkan kualitas berat buah pinang.

Nah, cukup mudah bukan cara membuat buah pinang tetap berat ketika akan dijual kepada pedangan pengumpul, selamat mencoba.


Salam �

Rabu, 20 Mei 2015

Rahasia sukses bertanam cabe

Seorang rekan saya pernah berkata, menanam cabe itu banyak resiko dan biayanya, sekali berhasil beruntunglah petani yang menanamnya, namun sekali tumbang habislah duit yang sudah dikeluarkan untuk biayanya, nah rekan-rekan pembaca khususnya yang hobi bertanam cabe, agar pertanaman anda sukses berikut kita berbagi ilmu bagaimana caranya agar cabe yang ditanam berhasil berbproduksi banyak dan baik.

Konsep dasar yang penting kita pahami terlebih dahulu sebelum memulai bertanam cabe adalah, bahwa tanah dan media yang dijadikan tempat bertanam cabe haruslah kaya dengan unsur syarat pertumbuhan sebatang tanaman, unsur hara yang tidak tercemar oleh pengendapan kimia, seperti karang tanah yang dihasilkan dari urea yang tidak terserap sepenuhnya oleh tanaman, dan unsur kimia lain yang tidak kasat mata. Jika ini yang terjadi pada lahan yang hendak anda jadikan tempat bertanam cabe, maka usulan saya ada baiknya lahan tersebut di obati dengan unsur organik.

Cara mengobatinya cukup gampang, dari pengalaman yang sudah saya lakukan bersama rekan-rekan perkumpulan peduli, kami memanfaatkan Bio � Organik Herbafarm, untuk menghidupkan kembali unsur hara pada tanah, pemakaian Bio � Organik Herbafarm untuk satu hektar lahan kami menghabiskan sebanyak 6 liter (6 botol), bagaimana cara perlakuannya, mari kita simak tipnya seperti dibawah ini.

Perlakuan terhadap benih cabe

1. Larutkan 20 Ml ( 2 tutup botol ) herbafarm cair didalam 2 liter air, kemudian rendam benih di dalam larutan tersebut selama lebih kurang satu jam

2. Siapkan kompos dan campurkan dengan tanah, aduk sampai rata.

3. Siapkan polybag kecil tempat pembenihan, masukkan campuran kompos dan tanah kedalam polybag tersebut, kemudian siram dengan air.

4. Masukkan biji cabe kedalam polybag sedalam 0,5 cm

5. Semprotkan pupuk bio-organik herbafarm pada bibit, setiap lima hari sekali selama 2 minggu, setelah muncul daun baru sebanyak 4 helai, bibit cabe siap untuk dipindahkan ke lahan.

Pengolahan tanah untuk pertanaman cabe

1. Lahan dicangkul, kemudian buat bedengan dengan lebar 1 m, tinggi 30 cm, dengan panjang sesuai dengan kebutuhan, jarak antar bedeng sekitar 50 cm, kemudian taburkan kompos sebanyak 5 ton, jika anda ingin menambahkan dolomite, tambahkan agak setengah ton saja/ hektar.

2. Tutup lahan dengan mulsa plastic, kemudian lahan diairi, biarkan selama 2 hari, stelah itu bibit siap di pindahkan.

Pemeliharaan tanaman cabe

1. Larutkan sebanyak 3 sampai 6 tutup botol Bio-organik Herbafarm pertangki air.

2. Semprotkan merata pada permukaan daun dan perakaran tanaman cabe.

3. Penyemprotan bio-organik herbafarm selanjutnya bisa dilakukan sekali selama 10 hari.

4. Jika anda ingin memberikan pupuk kimia, berikan setelah 7 hari penyemprotan bio-organik herbafarm.


Rahasia sukses bertanam cabe

Sabtu, 20 Desember 2014

Cara Membuat Minyak Kelapa (VCO) yang Baik

Pohon kelapa hampir dipastikan bisa tumbuh di seluruh pelosok nusantara, apalagi bagi warga yang tinggal di pesisir pantai, banyak sekali pohon kelapa yang tumbuh, dari pada pusing memikirkan BBM yang selalu menjadi jualan politik ada baiknya kita usaha sendiri, terutama MINYAK KELAPA untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Pada artikel ini kita akan membahas bagaimana cara membuat minyak kelapa dan menjadikannya sebagai peluang bisnis, sangat disayangkan jika anda tidak mencoba membuat minyak goreng dari buah kelapa, singkirkan dulu TEROR tentang minyak kelapa yang harus memiliki Omega sekian atau kandungan kolesterol sekian dari pikiran anda, sebab sudah bisa saya pastikan terror semacam itu adalah strategi kaum kapitalis yang hanya menginginkan agar setiap ibu-ibu di Indonesia ini membeli minyak kelapa buatan mereka.

Cara membuat minyak kelapa

Sebelum kita mulai membuat minyak kelapa ada beberapa peralatan yang musti kita persiapkan.

- Kompor atau Tungku kayu, Kalo (Semacam saringan), parutan, wajan besar, irus, ember, gayung, kayu penapis, kain penapis, baskom, kaleng tempat minyak, parang sabit, sendok, pisau.

Bahan yang kita butuhkan adalah :

- Buah kelapa, ragi tape.

Langkah Pembuatan

1. Belah buah kelapa, kemudian ambil isinya.

2. Bersihkan kulit ari yang ada pada biji

3. Parut kelapa yang sudah dibersihkan tadi

4. Kelapa yang sudah diparut direndam dalam air hangat sambil diremas untuk diambil santannya.

Cara membuat air bibit

- Campurkan air kelapa dengan ragi tape sebanyak dua sendok makan dan santan hasil perasan tadi

- Kemudian diamkan selama satu malam

Cairan yang terbentuk ini disebut juga dengan Air Bibit.

Cara mengolahnnya menjadi minyak bisa dilakukan dengan dua cara, yakni cara tradisional dan cara Peragian. Kita bahas dulu cara pengolahan menjadi minyak secara tradisional.

A. Cara pengolahan menjadi minyak (Cara Tradisional)


1. Jemurlah santan untuk pembuatan minyak selama 1 jam dipanas matahari, kemudian diamkan paling lama 10 jam, selanjutnya air yang berada dilapisan bawahnya dibuang.

2. Rebus santan sambil diaduk-aduk terus sampai ampasnya kering.

3. Sesudah dingin tuangkan diatas penapis.

4. Ditapis dan diperaslah minyaknya, maka jadilah minyak kelapa

Dalam perkembangan teknologi modern pengolahan buah kelapa menjadi minyak seperti ni dikenal dengan istilah VCO (Virgin Coconut Oil)

B. Pengolahan minyak dengan cara peragian

1. Parutan kelapa diremas-remas dalam air hangat, setelah diremas kemudian ditapis, dan santan dan airnya dibiarkan terpisah untuk diambil kepala santannya, kelapa santan disni maksudnya adalah santan yang berada pada bagian atas.

2. Kemudian masukkan air bibit dan kepala santan kedalam kaleng kaca dengan perbandingan 3 : 1

3. Campuran kepala santan dan air bibit tersebut dibiarkan terbuka selama 8 jam dengan temperature kamar, setelah peragian berjalan maka cairan akan terpisah dengan sendirinya menjadi tiga bagian yaitu Minyak, protein, dan air bibit.

4. Tiga bagian ini dipisahkan dengan cara masing-masing lapisan dimasukkan kedalam wadah terpisah.

5. Supaya minyak enak dan tidak lekak, maka didihkan terlebih dahulu diatas kompor/tungku.

Nah sampai tahap diatas kita telah membuat minyak kelapa dari buah kelapa secara tradisional, sekarang kita tinggal lirik pangsa pasarnya.

Rincian modal :

1. Kelapa lebih kurang 18 buah

2. Ragi tape

3. Kayu bakar

Pemasaran minyak kelapa

1. Bisa anda jual sendiri di rumah atau diwarung atau ditoko anda

2. Melayani pesanan tetangga yang ingin dibuatkan minyak kelapa alami

3. Mencari penyalur jika anda memproduksi dalam jumlah banyak

4. Dititipkan diwarung-warung

Sekedar informasi jika anda mampu memproduksi minyak kelapa dengan cara tradisional seperti pada point A, maka anda bisa menjual dalam bentuk botol ukuran 50 Ml50, harga pasaran sekarang perbotolnya bisa mencapai Rp. 50.000, nah tentu saja harga yang demikian sangat menarik bagi anda yang menjadikannya usaha kecil dirumah.

Cara Membuat Minyak Kelapa (VCO) yang Baik

Sabtu, 13 Desember 2014

Cara Menanam Tomat yang Baik

Secara garis besar bertanam tomat bisa kita bagi dalam lima tahap, jika tiap tahapan ini dilakukan dengan baik maka tanaman tomat akan berproduksi banyak dan tumbuhnya sehat. Berikut kita coba bahas satu persatu Cara menanam Tomat yang baik dalam lima tahapan tersebut.

1. Pengolahan tanah
Tanah dicangkul lebih dahulu sampai gembur dan dibentuk menjadi bedengan, lebar bedengan umumnya 70 - 100 cm, disekeliling bedengan itu dibuat parit yang dapat digunakan untuk menglairkan air hujan, parit ini sangat perlu supaya tanah tidak lembab pada waktu hujan, disamping itu perlu disiapkan tempat untuk penyemaian benih, untuk itu sebaiknya dibuatkan bak diisi tanah yang subur.
2. Penyemaian benih
Ambil sebuah peti kecil  dari kayu  atau sebuah kaleng yang dilobangi bagian bawahnya, isilah dengan tanah yang telah dicampur dengan pupuk kandang, setelah itu biji tomat yang telah tua dikeringkan dengan sinar matahari, peti atau kaleng tempat penyemaian tersebut disiram setiap hari, ingat ini penting harus disiram setiap hari sehingga tanah dalam peti atau kaleng selalu dalam keadaan basah tetapi tidak digenangi air.

Kalau kebun yang ditanami cukup luas, perlu dibuat persemaian, tanah untuk persemaian dipacul sampai gembur kemudian dicampur dengan pupuk kandang, bijinya disebarkan berbaris, jarak antar barisan lebih kurang 5 cm, tanah persemaian harus dijaga agar selalu lembab, setelah bibit berumur 2 minggu, pindahkan ke bumbung yang dibuat dari daun pisang, ketika mencabut bibit itu haruslah berhati-hati agar akarnya jangan rusak.

3. Penanaman Bibit
Bibit yang telah dicabut dari persemaian itu ditanam pada tanah bedengan, jarak tanam tomat 45 cm - 60 cm, untuk setiap batang tomat disediakan tonggak penyangga dari bambu yang panjangnya lebih kurang seperempat meter, gunanya untuk menopang dan tempat tomat merambat, hal ini sangat perlu agar buahnya nanti tidak sampai menempel ditanah, bila buah tomat menyentuh tanah buah itu akan cepat busuk, oleh karena itu setelah tanaman tomat mencapai tinggi 25 cm tonggaknya segera dipasang.
4. Pemupukan
Sebaiknya setiap lobang tanam diberi 0,5 sampai 1 kg pupuk kandang, pemupukan dengan pupuk kandang dilakukan selama lebih kurang 1 bulan sebelum bibit ditanam, selain pupuk kandang dapat juga diberikan pupuk buatan ZA, DS dan ZK, perbandingannya 2 : 3 : 1 sebanyak 20 gram setiap tanaman, berikutnya setelah penanaman bibit pemupukan pertama dilakukan setelah 2 minggu penanaman, pemupukan kedua dilakukan 2 sampai 3 minggu setelah pemupukan pertama, pemberian pupuk sebaiknya dilakukan bersamaan dengan waktu penyiangan, sekali seminggu tanaman disemprot dengan pestisida alami dari daun sirih untuk memberantas hama yang mengganggu tanaman itu.

5. Pemeliharaan
  Rumput-rumput yang mengganggu harus dibuang, tanah disekeliling tanaman harus selalu dijaga agar selalu gembur, dengan demikian peredaran udara didalam tanah berjalan dengan baik, kalau tanaman telah mencapai tinggi 25 cm ikat tanaman dengan pada tonggak yang terbuat dari belahan bambu, tinggi tonggak satu setengah sampai dua meter, bila telah berumur kira-kira dua bulan tanaman itu dipangkas, tinggalkanlah 1 sampai 2 cabang utama saja, tunas-tunas liar dibuang.

Cara Menanam Tomat yang Baik

Minggu, 23 November 2014

Cara Mencangkok yang Baik

Tanaman mengambil makanan dari dalam tanah dihisap oleh bulu-bulu akar yang diteruskan ke seluruh bagian atas tanaman melalui jaringan kayu (Xylem), setelah diolah oleh daun dengan bantuan sinar matahari (asimilasi) kemudian dialirkan lagi ke seluruh bagian tanaman melalui jaringan kulit (phloem), karena diperjalanan kulitnya dikupas (cangkok) maka makanan terhenti dan membentuk kalus, kalus ini bila menyentuh media yang basah maka akan membentuk akar, jadi mencangkok itu membuat cabang/batang tumbuh akar pada tempatnya, untuk kemudian dipotong dan dipindahkan menjadi tanaman yang baru.

Syarat pohon induk yang akan dicangkok sama halnya seperti untuk diambil matanya buat okulasi, cabang yang baik untuk dicangkok yaitu yang tumbuhnya tegak atau condong 45 derajat dan besar cabangnyakira-kira sebesar jari tangan, supaya akar mudah tumbuhnya jangan mencangkok cabang yang terlalu tua, yaitu diantara cabang tua dan cabang muda yang panjangnya 75 - 100 cm, waktu yang terbaik untuk mencangkok pada musim hujan supaya media tetap basah.

Berikut alat dan bahan yang dibutuhkan untuk mencangkok

1. Pisau yang tajam untuk mengerat
2. Sabut kelapa, lembaran plastik sebagai pembungkus cangkok
3. Tali plastik atau bambu untuk mengikat.
4. Media bisa dipergunakan tanah yang subur, moss atau sabut kelapa yang dicencang.

Cara kerja

1. Pengelupasan
Kulit disekeliling batang dikerat sampai kayunya, sepanjang besar lingkaran cabang, kemudian kulit dikelupaskan, pengeratan kulit bagian atas dimulai di bawah mata/buku, bila kulit cabang susah dikelupaskan hendaknya mencangkok jangan diteruskan, karena cabang demikian biasanya susah tumbuh akarnya, setelah kulit terkelupas cambium-nya digosok dengan kain lap dan dibiarkan 3 - 7 hari lamanya, tanaman yang bergetah lebih lama lagi dibiarkan sampai satu bulan hingga getahnya kering (untuk sawo, nangka, dan lain-lain)

2. Dipotong separo

Di bawah mata/ buku cabang dipotong miring keatas sedalam setengah lingkaran batang/cabangnya, kemudian bekas luka potongan diganjal dengan potongan kayu yang kecil kira-kira sebesar batang korek api sepanjang besarnya cabang, biasanya tanaman yang susah keluar akar, dengan cara ini mudah tumbuhnya, dan akar yang tumbuh pada ujung potongan diharapkan berfungsi sebagai akar tunggang

Bila media tanah yang dipergunakan untuk mencangkok, maka terlebih dahulu bagian bawah keratan dipasang sabuk kelapa melingkar yang dibawahnya diikat bersama cabang, kemudian lebih kurang dua genggam tanah gembur dan lembek ditutupkan pada luka keratan, selanjutnya sabut dibungkuskan keatas dan ujungnya diikat diluar, sabut dibungkus lagi dengan kain plastik yang lebarnya satu setengah kali besar cangkokan, agar dapat tertutup dengan rapat, sehingga media tidak mudah kering, bungkusan plastik ini ujung bawah, tengah, dan atas diikat lagi yang rapi dan kuat sehingga media dengan luka keratan dapat bersatu, mencangkok dapat dilakukan dengan media tanah yang langsung dibungkus plastik, akan tetapi pada waktu dipotong dan dibuka plastiknya sering kali tanahnya belah/gugur, sehingga akar-akarnya menjadi rusak.

Bila mencangkok mempergunakan media moss atau sabut kelapa yang dicencang, terlebih dahulu bahan-bahan tersebut direndam dalam air kemudian diperas dengan kain kain atau plastik, kemudian ditutupkan dan bagian bawahnya diikat, moss/sabut kelapa dimasukkan sampai padat dan cukup besarnya, bila kurang padat bagian tengahnya diikat lagi sampai kuat, media moss baik sekali untuk mencangkok karena tidak perlu penyiraman, akar mudah tumbuh sekalipun beberapa hari tidak turun hujan.

Ketika sudah berumur satu setengah bulan sampai dua bulan, cangkokan sudah keluar akarnya, semua cangkokan tidak akan tahan apabila setelah dipotong langsung ditanam dilapangan, untuk meengatasi ini diperlukan perenderan terlebih dahulu.

Cangkokan dapat dipotong setelah akar-akarnya menunjukkan warna cokelat, daun-daun tua bagian bawah dipotong setengah begitu pula ranting-ranting dan cabang yang tidak berguna dibuang, sehingga menghasilkan bentuk yang lebih baik, lalu pembungkus plastik dibuka dengan hati-hati agar akarnya tidak rusak, kemudian dideder didalam kantong plastik/ keranjang atau pot dan ditempatnkan pada tempat yang teduh.

Bila cangkokan ditempat pendederan daun-daunnya berwarna kuning dan berguguran, terutama daun tuanya, ini merupakan harapan bahwa cangkokan anda berhasil, apabila keadaannya terus segar, akan tetapi bila daun-daunnya kering menggantung, kemungkinan sekali cangkokan akan mati.

Untuk mengurangi resiko kematian, dapat dijalankan dengan sistem pendederan pohon, cangkokan yang telah keluar akar, pembungkus plastiknya dibuka dan di ganti dengan yang lebih besar, kemudian tanah yang gembur ditambahkan sampai akar-akarnya tertutup dengan rata.

Mendeder pohon bisa juga dengan mempergunakan daun pisang yang dibungkus melingkar, setelah ujung daun bagian bawah diikat kemudian ditambakan tanah gembur hingga penuh dan rata, sedangkan bagian permukaannya dibiarkan terbuka supaya tanahnya tidak tumpah, dibawah bibir daun dibantu dengan tali ikatan, mendeder pohon dengan cara ini bila tidak ada hujan penyiraman harus dilakukan setiap hari, atau diatasnya dipasang tabung dari bambu beruas atau kaleng bekas yang dapat meneteskan air dengan teratur.

Setelah akar-akar kelihatan menembus tanah yang baru atau menembus daun pisang dan berwarna cokelat, pemotongan baru dilakukan, akan semakin lebih baik hasilnya bila pemotongannya dilakukan secara bertahap.

menanam tanaman
(Sumber foto : maslatip.com)

Senin, 17 November 2014

Cara Mudah Membuat Emping Melinjo

Melinjo merupakan tumbuhan tahunan berbiji terbuka, berbentuk pohon yang berumah dua (dioecious, ada individu jantan dan betina). Bijinya tidak terbungkus daging tetapi terbungkus kulit luar. Batangnya kokoh dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Daunnya tunggal berbentuk oval dengan ujung tumpul. Melinjo tidak menghasilkan bunga dan buah sejati karena bukan termasuk tumbuhan berbunga. Yang dianggap sebagai buah sebenarnya adalah biji yang terbungkus oleh selapis aril yang berdaging.

Tanaman melinjo dapat tumbuh mencapai 100 tahun lebih dan setiap panen raya mampu menghasilkan melinjo sebanyak 80 - 100 Kg, Bila tidak dipangkas bisa mencapai ketinggian 25 m dari permukaan tanah.

Tanaman melinjo dapat diperbanyak dengan cara generatif (biji) atau vegetatif (cangkokan, okulasi, penyambungan dan stek).

Tempat Hidup
Tanaman melinjo dapat tumbuh pada tanah-tanah liat/lempung, berpasir dan berkapur, tetapi tidak tahan terhadap tanah yang tergenang air atau yang berkadar asam tinggi dan dapat tumbuh dari ketinggian 0 - 1.200 m dpl. Lahan yang akan ditanami melinjo harus terbuka atau terkena sinar matahari, lubang tanam berukuran 60 X 60 X 75 cm, dengan jarak tanam 6 - 8 m.

Melinjo dapat ditemukan di daerah yang kering sampai tropis. Untuk tumbuh dan berkembang, melinjo tidak memerlukan tanah yang bernutrisi tinggi atau iklim khusus. Melinjo dapat beradaptasi dengan rentang suhu yang luas. Hal inilah yang menyebabkan melinjo sangat mudah untuk ditemukan di berbagai daerah kecuali daerah pantai karena tumbuhan ini tidak dapat tumbuh di daerah yang memiliki kadar garam yang tinggi.

Di Indonesia tumbuhan melinjo tidak hanya dapat dijumpai di hutan dan perkebunan saja. Di beberapa daerah tumbuhan melinjo ditumbuhkan di pekarangan rumah atau kebun rumah dan dimanfaatkan oleh penduduk secara langsung.

Pemanfaatan
Melinjo jarang dibudidayakan secara intensif. Kayunya dapat dipakai sebagai bahan papan dan alat rumah tangga sederhana. Daun mudanya (disebut sebagai so dalam bahasa Jawa) digunakan sebagai bahan sayuran (misalnya pada sayur asem). Bunga (jantan maupun betina) dan bijinya yang masih kecil-kecil (pentil) maupun yang sudah masak dijadikan juga sebagai sayuran. Biji melinjo juga menjadi bahan baku emping. Kulitnya bisa dijadikan abon kulit melinjo.

kandungan nutrisi
penelitian yang sudah dilakukan pada melinjo menujukkan bahwa melinjo menghasilkan senyawa antioksidan. Aktivitas antioksidan ini diperoleh dari konsentrasi protein tinggi, 9-10 persen dalam tiap biji melinjo. Protein utamanya berukuran 30 kilo Dalton yang amat efektif untuk menghabisi radikal bebas yang menjadi penyebab berbagai macam penyakit.

Di Jepang dilakukan penelitian dan dilaporkan bahwa melinjo termasuk tumbuhan purba yang secara evolusi dekat dengan tanaman Ginkgo biloba yang ada di Jepang.

Ginkgo adalah spesies pohon hidup tertua, yang telah tumbuh selama 150-200 juta tahun dan dipercaya sebagai tonik otak karena memperkuat daya ingat. Daun Ginkgo juga punya khasiat antioksidan kuat dan berperan penting dalam oksidasi radikal bebas penyebab penuaan dini dan pikun.

Sampai saat ini, doktor biokimia dari Osaka Prefecture University, Jepang telah mengisolasi dua jenis protein yang menunjukkan aktivitas antioksidan tinggi. Dari seluruh bagian tumbuhan melinjo yang pernah diekstraknya, mulai dari daun, kulit batang, akar, sampai biji, ditemukan protein paling potensial adalah dari biji. Riset menunjukkan aktivitas antioksidan dari kandungan fenolik ini setara dengan antioksidan sintetik BHT (Butylated Hydroxytolune).

Selain itu melinjo juga merupakan antimikroba alami.[4] Itu artinya protein melinjo juga bisa dipakai sebagai pengawet alami makanan sekaligus obat baru untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Peptida yang diisolasi dari biji melinjo diindikasikan punya potensi aktif menghambat beberapa jenis bakteri gram positif dan negatif. (sumber ; wikipedia)

Cara membuat emping melinjo
Untuk membuat emping melinjo kita membutuhkan alat-alat sebagai berikut
1. batu hitam tebal permukaan rata/licin
2. Palu besi
3. pisau
4. anyaman bambu
5. baskom
6. palu kayu
7. bakul dari anyaman bambu
8. kantong plastik
9. niru
10. paran-paran tempat menjemur

Bahan-bahan yang dibutuhkan
1. buah melinjo (dari 2 kg melinjo bisa menghasilkan 1 kg empingya)

Langkah-langkah membuat emping melinjo
1. Pilihlah biji melinjo yang sudah tua.
2. lepaskan kulit melinjo dengan pisau
3. lepaskan kulit keras biji melinjo dengan merendang atau merebusnya terlebih dahulu, merendang biji melinjo bisa dilakukan dengan dua cara yaitu ;
a.. merendang dengan menggunakan pasir, masukkan biji melinjo yang sudah dikupas kulit luarnya, terus diaduk-aduk dengan irus
b. merendang menggunakan pasir, pasir dipanaskan terlebih dahulu, kemudian masukkan biji melinjo lalu aduk bersama pasir panas
4. Biji melinjo direbus dalam kukusan
5. Pengupasan kulit keras, biji-biji melinjo kita angkat dalam keadaan panas, kemudian dipukul dengan palu kayu.
6. Biji melinjo yang baru terkelupas kulit kerasnya dipukul satu persatu diatas batu licin.
7. jika kita ingin membuat ukuran empingnya kecil, cukup memukul satu persatu biji melinjo, jika ingin membuat empingnya besar kita gandengkan beberapa biji melinjo dengan cara memukulnya sampai keduanya menyatu.
8. Gunakan seng untuk mengambil emping dari batu.
9. Letakkan emping dalam anyaman bambu
10. Jemur emping di panas matahari, usahakan emping basah jangan sampai terkena debu atau kotoran lain
11. Setelah emping kering kumpulkan dalam niru.
12. Kemudian pilih dan kelompokan susuai ukurannya.
13. Pada tahap ini emping melinjo sudah bisa dipasarkan dalam bentuk mentah.


kompas musafir
(Sumber foto ; bisnisukm.com)

Selasa, 12 Agustus 2014

Kualitas Sayuran Pertanian (PKL - Perawatan Kasihsayang Lembut)

Kualitas sayuran tergantung dari beberapa faktor yang bila dikombinasikan akan menentukan dapat diterima atau tidaknya hasil pertanaman oleh pembeli atau konsumen. Kualitas sayuran ini terbagi dalam beberapa kategori yang berbeda seperti:
1. Sifat-sifat yang mudah teramati (dirasakan) seperti kenampakan fisik, warna, tekstur dan ketegaran (turgidity);
2. Sifat-sifat yang kurang mudah diamati (dirasakan) seperti dari aroma dan nilai gizi.

Kualitas sayuran adalah sifat yang tidak stabil yang harus dipertahankan selama suatu jangka waktu tertentu. Usaha untuk mempertahankan kualitas sayuran yang demikian ini akan dapat menguntungkan siapapun dalam rantai produksi hingga konsumen: seperti petani, pedagang perantara, bahkan konsumen sekalipun. Produsen akan diuntungkan dari tambahan pendapatan karena kerugian yang telah ada akan berkurang dari harga setiap unit hasil sayuran yang terjual. Perantara seperti pedagang pengumpul dan pedagang pengecer juga akan mendapatkan keuntungan dalam pengertian finansial, karena perlindungan konsumen atau pelanggan terjamin karena konsumen mendapatkan nilai tambah untuk uangnya maupun keuntungan gizi dari produk yang baik.

Kemerosotan Kualitas Pada Sayuran yang Dipanen
Masalah kemerosotan kualitas sayuran dimulai selama periode pertumbuhan dan berlangsung sampai sesudah hasil dipanen, karena hasil panen itu secara fisiologi masih aktif. Berbagai faktor dalam dan luar menentukan laju kemerosotan dan kehilangan kualitas. Terbagi dalam tiga kategori: pra panen, panen dan pasca panen.

Faktor-Faktor Pra Panen
Meliputi kondisi lingkungan yang berlaku selama pertumbuhan, tingkat kemasaman pada waktu panen, hama dan penyakit tanaman, kultivar yang ditanam, dan tindakan-tindakan budidaya yang digunakan.

Faktor-Faktor Panenan dan Pasca Panen
Cara pemanenan, baik secara mekanik maupun secara manual, akan mempengaruhi  tingkat dan tipe pelukaan, kememaran, dan sayatan yang terjadi. Bagian-bagian yang rusak demikian itu merupakan titik-titik masuk bagi jasad renik yang dapat menurunkan kualitas, atau lubang-lubang kehilangan air yang lebih besar dan selanjutnya penurunan ketegaran (turgidity) terutama pada sayuran daun.

Jadi pada dasarnya, cara-cara memperbaiki pemanenan, penanganan, penyimpanan, dan angkutan sayuran dapat disimpulkan sebagai ketentuan dari PKL - Perawatan Kasihsayang Lembut, dan di negara-negara sedang berkembang yang mungkin belum memiliki gudang berpendinginan atau angkutan berpendinginan ini mungkin merupakan faktor yang paling penting dalam kualitas sayuran pasar.


Menanam - Tanaman
(Sumber foto: brzns.blogspot.com)

Kamis, 17 Juli 2014

Pembuatan Bedengan di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi

Daerah Datar (Daerah Dataran Rendah)
Daerah datar memiliki masalah yang paling kecil jika dilihat dari segi pembuatan bedengan, tetapi sangat mutlak diperlukan untuk terjaminnya pembuangan air yang baik. Pengatusan yang baik dapat dicapai jika dibuatkan parit-parit pengatusan lapangan menuju ke saluran-saluran pengatus alami dan bedengan-bedengan yang relatif tinggi untuk pertanaman sayuran. Parit-parit pengatusan biasanya dibuat menurut pola kisi-kisi (grid pattern). Di daerah yang bercurah hujan tinggi dimana periode kering bukan merupakan masalah, airnya seharusnya selalu tersedia untuk pengairan setiap waktu, tetapi di daerah yang mengalami kekurangan air secara berkala, diperlukan adanya sekat-sekat (tile bunds) sepanjang parit pengatusan untuk meningkatkan penerimaan curah hujan. Dalam hal ini pembuatan guludan dan paliran leboih baik digunakan daripada bedengan yang lebar (bedengan dengan lebar 1 m atau lebih) karena hal ini akan memberikan kemudahan bagi tanaman untuk mencapai air. Di tanah yang sangat rendah, harus dibuatkan bedengan cembung.

Daerah Berbukit (Daerah Dataran Tinggi)
Daerah berbukit seringkali diteras untuk banyak tipe budidaya sayuran. Ini terutama disebabkan karena bedengan memerlukan perhatian lebih untuk semua produksi sayuran pasar, dan jalan masuk ke lahan pertanaman tidak mudah apabila tidak dibuat teras-teras. Pertanaman dengan barisan-barisan berjarak lebar dapat diusahakan dalam barisan tunggal sepanjang lereng bukit.

Pembuatan bedengan menurut menurut garis tinggi diperlukan di daerah berbukit untuk mencegah erosi tanah, yang dapat sangat parah jika tanah diolah naik dan turun bukit. Bedengan dapat dibuat pada teras yang telah dibuat terlebih dahulu atau dapat dibuat sehingga permukaan bedengan sesuai dengan kemiringan umum bukit. Hal ini umumnya dilakukan pada kemiringan yang lebih kecil.

Dalam pembuatan bedengan atau teras perlu dibedakan antara tanah-tanah yang tidak stabil, seperti yang berbahan induk batu lempung (shale) dan batuan pasir dengan tanah-tanah yang stabil sperti tanah-tanah granit dan basalt. Tanah yang pertama membutuhkan pengelolaan yang jauh lebih cermat. Masalah utama pada tanah-tanah tersebut di daerah berbukit adalah kecenderungannya untuk tererosi. Di daerah datar hal ini hanya akan mengakibatkan rebahnya tanaman, tetapi di daerah berbukit resiko tanah longsor sangat besar. Oleh karena itu, dalam perhitungan curah hujan tinggi, teras harus dibuat sedemikian rupa agar mendorong aliran permukaan yang cukup tetapi sekaligus akan menghindari erosi tanah. Di daerah yang curam harus dibuat teras-teras bangku dengan kemiringan 1 - 2o sepanjang teras, dengan lubang-lubang unutk pengatusan pada selang jarak yang tepat. Lubang-lubang ini harus dilindungi terhadap erosi, dengan membuat pintu air dari batu atau semen atau bisa juga dengan membuat daerah pembuangan yang cukup berumput. Pertumbuhan rumput dalam saluran pengatusan dapat dikendalikan dengan pembabatan secara berkala, dan hasilnya dapat dijadikan sumber bahan mulsa. Erosi bedengan pada teras juga dapat dikurangi dengan pemulsaan. Sebaiknya penggunaan tanah-tanah tak stabil, usaha tani sayuran dibatasi pada derah yang kurang curam, tetapi sayangnya dalam praktik, lereng-lereng yang sangat curam kadang-kadang digunakan untuk budidaya sayuran di daerah tropika. Biasanya usaha tani sayuran semacam ini terletak di stasiun pegunungan (hill station) dimana jenis sayuran iklim sedang yang bernilai ekonomi tinggi dapat diusahakan. Persiapan lahan yang mahal, tetapi produksi sayuran dekat dengan pasar yang sesuai biasanya menguntungkan dan dapat menutup biaya awal yang tinggi. 

Pada tanah-tanah granit dan vulkanik/gunung berapi, lereng yang lebih curam dapat diusahakan dengan aman dan tindakan-tindakan pencegahan yang seksama terhadap longsornya tanah umumnya tidak diperlukan.

menanam-tanaman
Gambar bedengan/teras pada daerah berbukit
(Sumber foto: pkm.openthinklabs.com)