Tampilkan postingan dengan label tanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Agustus 2015

Bahan Dasar Tanah Polibeg Persemaian

Membuat tanaman tumbuh subur dan berbuah lebat selalu menjadi tujuan utama bagi petani dan penggiat bercocok tanam, karena dengan demikian jerih payah selama melakukan kegiatan pertanaman menjadi terobati, manakala tumbuhan yang kita tanam tersebut tumbuh dengan baik, namun tentu saja membuat keinginan yang demikian terwujud kita perlu melakukan usaha yang maksimal, saran saya yang terbaik untuk semua kegiatan menanam tanaman tersebut adalah, kita melakukan usaha bertanam tersebut dengan tetap mengedepankan konsep non pestisida dan ramah lingkungan.

"Sering rekan-rekan saya sesama petani bertanya, apakah mungkin untuk melakukan kegiatan bercocok tanam tersebut tidak menggunakan bahan kimia buatan? Jawabannya sangat mungkin sekali, orang-orang bercocok tanam selalu menginginkan bagaimana produksi dari tanamannya banyak, namun orientasi yang demikian membuat kita lupa bahwa hasil yang banyak itu apakah sehat untuk kita konsumsi, hal yang baik dan seimbang tentu saja dengan turut mempertimbangkan bahwa hasil yang banyak tersebut juga seharusnya sehat untuk kita konsumsi".

Pembahasan kita kali ini adalah tentang bagaimana kita mempersiapkan tanah persemaian benih tanpa menggunakan pestisida dan ramah lingkungan, untuk melakukan hal tersebut ada beberapa langkah yang perlu kita siapkan.

Bahan dasar tanah persemaian

1. Tanah yang baik kita ambil untuk persemaian adalah tanah yang banyak mengandung humus, untuk mendapatkan humus tanah tersebut bisa kita peroleh dari tanah yang terdapat pada SISA di SEKELILING PEMBAKARAN, ingat tanah yang kita ambil adalah tanah yang berada di SEKELILING PEMBAKARAN, bukan tanah yang terdapat pada pembakaran.

2. Setelah tanah di SEKELILING PEMBAKARAN diambil, kemudian tanah tersebut diayak dengan ayakan halus.

3. Berikutnya kita tinggal persiapkan polibeg pembenihan, setelah tanah diayak semprotkan air bekas cucian beras yang sudah dicampur dengan biang bakteri Em4, aduk tanah sampai rata, jika anda merasakan tanah tersebut terasa dingin itu tandanya adukan sudah bagus.

4. Kemudian masukkan biji yang akan kita jadikan benih.

5. Hal yang perlu diperhatikan berikutnya, kadar air dalam tanah yang sudah didalam polibeg, jangan membuat polibeg terlalu banyak air, karena dengan terlalu banyak air maka jamur juga akan aktif berkembang.

6. Setelah lima langkah diatas sekarang polibeg tinggal kita letakkan ditempat yang disinari cahaya matahari pagi.

Sekarang kita tunggu benih yang sudah disemai dalam polibeg tersebut keluar tallusnya, perlu juga diperhatikan menjelang benih tumbuh, siapkan juga polibeg besar tempat pemindahannya, sekian tips singkat bercocok tanam dari saya tentang bahan dasar tanah persemaian untuk polibeg, selamat mencoba.

Bahan Dasar Tanah Polibeg Persemaian


Mari kita selamatkan tanah dari kimia berbahaya, untuk generasi kita berikutnya.

Jumat, 29 Mei 2015

Panduan Praktis Pengelolaan Tanah untuk Bertanam Sayuran

COLLECTIE TROPENMUSEUM 'Bemestingsproef van bi...
COLLECTIE TROPENMUSEUM 'Bemestingsproef van bibit in ingegraven potten TMnr 10012056 (Photo credit: Wikipedia)
Tanah walaupun dilihat sepintas sama, tetapi memiliki sifat-sifat yang berbeda antara satu jenis tanah dengan jenis tanah yang lainnya. Bahkan, dalam setiap jengkal tanah memiliki sifat yang berbeda, apalagi jikalau tanah tersebut berbeda tempat. Oleh karena itu, ketika kita hendak bertanam sayuran harus diperhatikan cara pengelolaan tanah tersebut, khususnya dalam segi karakteristik wilayah. Berikut panduan praktis dalam pengelolaan tanah.

Tipe tanah dan pengolahan Lahan

Tipe tanah yang dimaksud disini adalah sifat kimia dari tanah tersebut seperti apakah terlalu banyak mengandung pasir, debu (lempung) ataukah terlalu banyak mengandung liat. Tipe tanah dan lahan utama yang mungkin dihadapi dalam usaha pertanian sayuran di daerah tropika khususnya adalah sebagai berikut:

Areal atau daerah datar atau lempungan rendah dengan pengelolaan sebagai masalah utama. Daerah demikian dapat terdiri dari beberapa jenis tanah Inceptisol, Entisol (yang merupakan tanah-tanah muda yang masih berkembang), Mollisol (tanah-tanah lunak atau tanah dengan solum dangkal), tanah Vertisol (tanah dengan sifat plastis yang mudah mengembang dan mengerut), dan di kawasan dengan intrusi garam serta tanah Aridisol (tanah di daerah dengan curah hujan yang rendah atau kering). Kebanyakan tanah ini adalah tanah masam (pH di bawah 7), tetapi tanahVertisol dan Aridisol dapat mendekati netral atau basa. Kebanyakan tanah-tanah tersebut berasal dari fraksi yang sangat mudah lapuk daribahan induknya dan sangat sukar dikelola, kecuali Vertisolyang berasal dari bahan induk basalt. Beberapa tanah marin atau tanah di daerah pantai, bila dikelola, dapat menjadi sangat masam (tanah sulfat masam). Beberapa daerah rendah mungkin juga mempunyai lapisan gambut di lapisan subsoilnya. 

Tanah-tanah pasir koluvial, daerah dengan kontur datar atau sedikit berbukit dengan pengatusan yang lebih baik, atau terbentuk dari hasil endapan sedimen di dekat atau diantara bukit-bukit atupun didaerah atas dataran banjir (flood plain). Beberapa tanah koluvial berasal dari bahan letusan gunung api atau batu kapur sehingga dari segi pengolahannya lebih mudah ditangani.
Tanah-tanah pedalaman berbukit, mencakup daerah landai sedang sampai curam yang dalam pengelolaannya memerlukan penterasan konstruksi bedengan untuk budidaya sayuran. Tanah dalam kategori ini adalah tanah Oxisol, Alfisol dan Ultisol. Tergantung bahan induknya, tanah-tanah ini dapat mudah atau sukar diolah dan mantap atu sangat peka terhadap erosi

Banyak tanah dataran yang mengandung fraksi debu yang sangat mudah lapuk memiliki sifat yang kurang baik, yaitu mengeras jika kering. Sifat ini akan menghalangi pertumbuhan semai dan memerlukan pengolahan permukaan tanah yang intensif untuk memecah keraknya. Untuk pengolahan tanah jenis ini dapat digunakan mulsa untuk menjaga agar permukaan tanah tetap basah. 

Tanah-tanah tersebut juga dapat menjadi sangat lekat dan sukar diolah ketika basah. Dalam kondisi basah, juga sangat sulit untuk berjalan atau menggunakan peralatan di tanah tersebut, karena tanah melekat pada alas kaki dan roda kendaraan serta mesin-mesin. Untuk melakukan kegiatan pertanian sangat diperlukan papan-papan untuk berjalan. Ini dapat berupa papan pendek biasa yang panjangnya 1-2 m, dilengkapi dengan gelang-gelang kaki sehingga dapat dipindah-pindahkan atau dibuat permanen. 

Masalah utama lainnya (khususnya pada tanah lempung dan berpasir) adalah kerentanannya yang besar terhadap erosi. Hujan lebat selama beberapa hari dapat melarutkan banyak tanah. Oleh karena itu, solusi untuk masalah ini adalah penggunaan mulsa. Pemberian mulsa organik pada bedengan yang baru ditanami selalu menguntungkan pada tanah yang bertekstur halus. Pada akhirnya, mulsa akan terurai tetapi pada saat itu tajuk tanaman akan sudah menutup tanah dengan baik. Bila bedengan diberi mulsa jerami, kompetisi gulma akan ditekan selama beberapa minggu sesudah pengolahan tanah. Setelah itu, apabila tanaman tumbuh baik, mulsa boleh di sisihkan karena sudah tidak dibutuhkan lagi untuk menutup permukaan tanah.

Panduan Praktis Pengelolaan Tanah untuk Bertanam Sayuran

Senin, 18 Agustus 2014

Tanah, Pupuk dan Pengelolaan Tanah

Braga Street in the mid-1930s.
Braga Street in the mid-1930s. (Photo credit: Wikipedia)
Kebanyakan tanah terdiri dari suatu lapisan bahan mineral yang telah mengalami pelapukan, karena sedikit atau banyak telah dipengaruhi oleh iklim, pengatusan dan penutupan vegetasi. Jadi, tanah tidak saja merupakan hasil pelapukan dari bahan induknya tetapi hasil dari kerja lingkungannya. Tanah di daerah tropika basah, karena curah hujan yang tinggi, biasanya tercuci sehingga mengandung lebih sedikit hara daripada tanah yang berasal dari kawasan yang lebih kering, dan karena substansi alkalisnya (kalsium, magnesium, kalium dan natrium) telah tercuci keluar, cenderung bersifat masam secara alami. Tanah-tanah demikian, terutama yang terbentuk di kawasan hutan, kesuburannya sangat tergantung pada tingkat bahan organiknya, yang memberikan perbaikan sifat-sifat fisika (penerimaan/penangkapan curah hujan, kerapatan massa rendah dan penyimpanan lengas) dan daya pegang hara (kapasitas pertukaran kation).

Di beberapa daerah terdapat tanah gambut yang hampir seluruhnya terdiri dari bahan organik - suatu tingkatan yang sangat tinggi. Tanah demikian dapat diperbaiki dengan pengatusan dan pembajakan dalam untuk mengangkat tanah bawahan (sub soil) untuk mengurangi kadar bahan organiknya.

Di daerah yang lebih kering tanah cenderung kurang masam karena kurang tercuci.

Pada tanah mineral, yang merupakan bagian terbesar dari tanah-tanah tropika, sifat bahan induk (batuan darimana tanah itu berasal) mempengaruhi kandungan haranya, stabilitas dan kerentanannya terhadap erosi, maupun kemudahan pengolahannya. Tanah yang berasal dari batuan gunung berapi seperti granit dan basalt seringkali sangat stabil (tanah yang tak bergerak atau tererosi). Tanah-tanah tersebut dapat juga memiliki permeabilitas yang baik jika terbentuk di daerah dengan curah hujan tinggi, karena bahan yang lebih halus tercuci keluar selama waktu periode geologi yang panjang. Kandungan hara (kalsium, magnesium dan kalium) akan bervariasi. Batuan masam seperti granit sebagai bahan induk, kandungan haranya dapat sangat rendah, tetapi pada batuan basa seperti basalt, kandungan haranya akan tinggi bahkan sangat tinggi, tergantung dari derajat pencuciannya. Batuan gunung berapi ini biasanya terdapat di daerah yang bergunung.

Tanah lainnya yang memiliki sifat-sifat yang sangat mirip dengan tanah basalt adalah tanah yang berasal dari batuan kapur. Dapat berupa tanah gunung atau tanah dataran dan merupakan bahan sisa yang tertinggal setelah pelapukan selama periode geologi lama. Warnanya merah, kadang-kadang dengan pemasukan (inclusion) batu kapur yang menyolok dan kandungan kapur yang tinggi. Di daerah datar, tanah ini didominasi oleh batu kapur atau marl (lempung + pasir + kapur).

Tanah yang berasal dari batuan endapan, maupun tanah yang baru terbentuk oleh pengendapan yang dibawa oleh air atau angin, jauh kurang stabil dan biasanya peka terhadap erosi. Ini disebabkan karena tanah tersebut tersusun dari bahan yang mudah dipindahkan oleh air atau angin. Tanah endapan (sedimentary soils) (dari batuan sedimen seperti serpih dan batupasir) ditemukan di kawasan bergelombang dan bergunung di mana mereka muncul oleh gerakan tanah (dorongan ke atas), dan juga pada lahan datar sebagai akibat erosi, yang kemudian digolongkan sebagai tanah yang berbeda. Karena tanah endapan demikian itu sering terdapat di daerah yang datar, yang merupakan akibat dari kemudahannya tererosi, mereka merupakan tanah pertanian  dominan di dunia.


Jumat, 01 Agustus 2014

Cara Bertanam Kubis (Brassica oleracea)

Budidaya
Kubis dapat ditanam dihampir semua jenis tanah dan sangat toleran pada tanah lempng berat. Kubis juga tanggap baik terhadap kapur, dan tentu saja hal ini akan mengurangi penyakit akar pekuk. Membudidayakan tanaman Kubis (Brassica oleracea) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Benih terlebih dahulu harus disemaikan dalam kotak-kotak atau kantong-kantong kertas ataupun polybag yang berisi tanah di pembibitan dan dipindahtanamkan pada umur empat minggu. Polybag dengan ukuran kira-kira 6 x 4  cm sesuai untuk semai dengan umur 3 - 4 minggu, atau dapat juga dibiarkan lebih lama jika jarak antar polybag dijauhkan jaraknya sekitar 8 cm. 

2. Berikan siraman ringan untuk menghindari penyakit rebah semai dan atau perlakuan tanah dengan thiram atau captan. Tanah dapat juga disterilisasikan dengan panas. Sangat dianjurkan untuk menggunakan perlakuan (perawatan) benih seperti menggunakan thiram atau Ceresan (kalomel bila terdapat penyakit akar pekuk), terutama bila sumber benih tidak diketahui.

3. Setelah pemindahtanaman, tanaman semai harus diberikan naungan selama kira-kira satu minggu. Setelah tumbuh dengan baik, penyiraman rutin secara teratur akan mendorong pertumbuhan kubis. Varietas-varietas tertentu seperti "Y.R. Cross" dan "K.k. Cross" tidak dianjurkan untuk ditanam pada tanah gambut karena adanya kecendrungan timbulnya penyakit busuk hati di tanah tersebut, meskipun telah diberikan tambahan boron dan pemupukan yang cukup. Varietas terbaik untuk tanah demikian adalah "Spring Light". Kompos dan bahan organik busuk juga baik untuk kubis dengan takaran 20 ton/ha per tahun, sebagai tambahan pada pupuk anorganik. Kapur diperlukan sebanyak 2 ton/ha yang dapat bertahan sampai beberapa tahun kecuali jika tanahnya sangat masam.

Perlindungan Tanaman
Penyakit akar pekuk (Plasmodiophora brassicae) yang dapat masuk dalam biji, merupakan penyakit penting dan pengendaliannya yang terbaik masih dengan menggunakan 'kalomel' (merkuri klorida), yang juga dapat memberikan perlindungan terhadap tempayak akar. Pemberian kapur juga dapat menghalangi penyakit akar pekuk. Di daerah yang bebas penyakit akar pekuk, perlakuan benih dengan thiram mungkin dapat digunakan untuk melindungi terhadap penyakit terbawa benih lain. Alterinaria brassicae dan A. brassicicola adalah penyakit daun yang umum merusak kubis dan penyakit kaki hitam (Leptophaeria maculans) dapat menjadi penyakit penting di daerah tropika pada ketinggian yang lebih tinggi. Higiene atau kebersihan, benih dan perlakuan benih akan dapat mengendalikan semua penyakit tersebut.

Dua penyakit bakteri penting lainnya adalah penyakit busuk hitam (Xanthomonas campestris) dan penyakit busuk buah (Erwinia spp.). Keduanya dapat menyebabkan pembusukan seluruh bagian tanaman. Pergiliran tanaman, kebersihan lahan serta benih yang bersih adalah hal mutlak. Perlakuan air panas pada benih (25 menit pada suhu 50 derajat celcius untuk kubis atau 15 menit untuk Cruciferae lainnya) ditambah perlakuan benih dengan senyawa merkuri akan menghilangkan bakteri.

Hama tropika utama adalah ulat punggung intan (Plutella xylostella). Berbagai insektisida akan mengendalikannya sama baiknya dengan Bacillus thuringiensis, suatu bakteri pengendali hayati. Serangga dapat cepat menjadi tahan terhadap insektisida kimia dan akan bijaksana untuk menggunakan insektisida berbeda secara bergantian, terutama yang berasal dari kelompok insektisida yang berbeda. Perangkap cahaya di dekat bedengan dengan baskom yang berisi air di bawahnya akan menangkap ngengat dalam jumlah besar. berbagai kumbang pemakan daun, ulat dan afid merupakan hama umum dan dapat dikendalikan dengan berbagai zat kimia.

Pada tanah gambut, penyemprotan hara mikro dan borak mungkin diperlukan. Untuk pengendalian gulmanya, Amels dan Prefar sudah cukup baik.

menanam - tanaman
Penyakit busuk hitam
(Sumber foto: trubushijau.blogspot.com)

Minggu, 20 Juli 2014

Memelihara Semai Di Persemaian

Kebanyakan sayuran berbiji halus di daerah tropika pertama kali ditumbuhkan dalam persemian dan kemudian dipindah tanamkan. Ada beberapa faktor yang dapat mempengarui keberhasilan persemaian, seperti:

Naungan
Persemaian sayuran paling baik dibuat di bawah naungan. Suatu keangka pancang dengan tinggi melebihi kepala orang dewasa yang menopang penutup plastik sudah cukup untuk keperluan ini. Penutup harus mempunyai bubungan yang cukup untuk menghindari berkumpulnya air hujan dan harus dilindungi terhadap tiupan angin dengan jaring kawat. Lembaran plastik pertanian modern yang cocok untuk tujuan ini adalah yang tahan terhadap sinar ultraviolet dan tahan sampai beberapa tahun. Lembaran atau jaring plastik ringan akan memberikan sekedar naungan (shade), tetapi idak boleh melebihi 40%. Lembaran plastik untuk naungan dapat dianjurkan karena juga dapat memberikan perlindungan semai terhadap hujan.

Tanah
Tanah untuk kotak-kotak benih atau untuk mengisi kantong polybag harus merupakan cmpuran pasir, geluh dan bahan oganik dalam keseimbangan yang tepat, yang memugkinkan pengatusan yang baik. Campuran yang cocok terdiri atas dua bagian (menurut volume) geluh, satu bagian pasir dan satu bagian kompos, gambut, sabut kelapa atau bahan organik lain yang cocok. Jika lempung yang digunakan menggantikan geluh, kandungan pasirnya harus ditambah. Tanah harus diaduk dan disaring untuk membuang gumpalan-gumpalan. Untuk setiap meter kubik tanah, harus dicampurkan 2 kg pupuk dengan susunan 12:12:17:2 atau pupuk majemuk yang sama, secara merata: pupuk harus dihaluskan untuk mencegah adanya gumpalan-gumpalan.

Transplanting (Pemindah tanaman)
Taraf yang tepat untuk pemindahan bervariasi menurut kerapatan penyebarannya atau ukuran wadahnya dan menurut ketegaran atau pertumbuhan semainya. Jika menggunakan kantong kertas bergaris tengah 2,5 - 3 cm dan panjang 5 - 7 cm, semai akan siap tanam pada umur tiga atau empat minggu. Jika dipindahtanam sebagai semai cabutan diperlukan naungan pada waktu hari panas selama minggu pertama.

Waktu yang tepat untuk mencabut dan menanam semai ke tanah adalah ada saat menjelang siang hari kurang lebih pukul 09.00 sampai pukul 12.00 karena tanaman sudah memasak makanannya sehingga ketika dipindahtanam tanaman akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

menanam-tanaman
(Sumber foto: pengertian-definisi.blogspot.com )

Kamis, 17 Juli 2014

Pembuatan Bedengan di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi

Daerah Datar (Daerah Dataran Rendah)
Daerah datar memiliki masalah yang paling kecil jika dilihat dari segi pembuatan bedengan, tetapi sangat mutlak diperlukan untuk terjaminnya pembuangan air yang baik. Pengatusan yang baik dapat dicapai jika dibuatkan parit-parit pengatusan lapangan menuju ke saluran-saluran pengatus alami dan bedengan-bedengan yang relatif tinggi untuk pertanaman sayuran. Parit-parit pengatusan biasanya dibuat menurut pola kisi-kisi (grid pattern). Di daerah yang bercurah hujan tinggi dimana periode kering bukan merupakan masalah, airnya seharusnya selalu tersedia untuk pengairan setiap waktu, tetapi di daerah yang mengalami kekurangan air secara berkala, diperlukan adanya sekat-sekat (tile bunds) sepanjang parit pengatusan untuk meningkatkan penerimaan curah hujan. Dalam hal ini pembuatan guludan dan paliran leboih baik digunakan daripada bedengan yang lebar (bedengan dengan lebar 1 m atau lebih) karena hal ini akan memberikan kemudahan bagi tanaman untuk mencapai air. Di tanah yang sangat rendah, harus dibuatkan bedengan cembung.

Daerah Berbukit (Daerah Dataran Tinggi)
Daerah berbukit seringkali diteras untuk banyak tipe budidaya sayuran. Ini terutama disebabkan karena bedengan memerlukan perhatian lebih untuk semua produksi sayuran pasar, dan jalan masuk ke lahan pertanaman tidak mudah apabila tidak dibuat teras-teras. Pertanaman dengan barisan-barisan berjarak lebar dapat diusahakan dalam barisan tunggal sepanjang lereng bukit.

Pembuatan bedengan menurut menurut garis tinggi diperlukan di daerah berbukit untuk mencegah erosi tanah, yang dapat sangat parah jika tanah diolah naik dan turun bukit. Bedengan dapat dibuat pada teras yang telah dibuat terlebih dahulu atau dapat dibuat sehingga permukaan bedengan sesuai dengan kemiringan umum bukit. Hal ini umumnya dilakukan pada kemiringan yang lebih kecil.

Dalam pembuatan bedengan atau teras perlu dibedakan antara tanah-tanah yang tidak stabil, seperti yang berbahan induk batu lempung (shale) dan batuan pasir dengan tanah-tanah yang stabil sperti tanah-tanah granit dan basalt. Tanah yang pertama membutuhkan pengelolaan yang jauh lebih cermat. Masalah utama pada tanah-tanah tersebut di daerah berbukit adalah kecenderungannya untuk tererosi. Di daerah datar hal ini hanya akan mengakibatkan rebahnya tanaman, tetapi di daerah berbukit resiko tanah longsor sangat besar. Oleh karena itu, dalam perhitungan curah hujan tinggi, teras harus dibuat sedemikian rupa agar mendorong aliran permukaan yang cukup tetapi sekaligus akan menghindari erosi tanah. Di daerah yang curam harus dibuat teras-teras bangku dengan kemiringan 1 - 2o sepanjang teras, dengan lubang-lubang unutk pengatusan pada selang jarak yang tepat. Lubang-lubang ini harus dilindungi terhadap erosi, dengan membuat pintu air dari batu atau semen atau bisa juga dengan membuat daerah pembuangan yang cukup berumput. Pertumbuhan rumput dalam saluran pengatusan dapat dikendalikan dengan pembabatan secara berkala, dan hasilnya dapat dijadikan sumber bahan mulsa. Erosi bedengan pada teras juga dapat dikurangi dengan pemulsaan. Sebaiknya penggunaan tanah-tanah tak stabil, usaha tani sayuran dibatasi pada derah yang kurang curam, tetapi sayangnya dalam praktik, lereng-lereng yang sangat curam kadang-kadang digunakan untuk budidaya sayuran di daerah tropika. Biasanya usaha tani sayuran semacam ini terletak di stasiun pegunungan (hill station) dimana jenis sayuran iklim sedang yang bernilai ekonomi tinggi dapat diusahakan. Persiapan lahan yang mahal, tetapi produksi sayuran dekat dengan pasar yang sesuai biasanya menguntungkan dan dapat menutup biaya awal yang tinggi. 

Pada tanah-tanah granit dan vulkanik/gunung berapi, lereng yang lebih curam dapat diusahakan dengan aman dan tindakan-tindakan pencegahan yang seksama terhadap longsornya tanah umumnya tidak diperlukan.

menanam-tanaman
Gambar bedengan/teras pada daerah berbukit
(Sumber foto: pkm.openthinklabs.com)

Rabu, 16 Juli 2014

Kapur, Pengapuran Tanah Masam untuk Meningkatkan pH Tanah

Di daerah-daerah tropika kebanyakan tanahnya bersifat masam, karena pengaruh curah hujan yang tinggi sehingga basa-basa dapat tukarnya tercuci. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemasaman  tersebut adalah dengan melakukan pengapuran jika akan dilakukan usaha pertanaman sayuran, terutama untuk kerabat Cruciferae (kerabat kubis, kubis bunga dan sebagainya). Tanah-tanah yang terutama membutuhkan kapur adalah tanah Oxisol, Alfisol dan Ultisol yang mengalami pencucian berat. Tanah gambut dataran rendah dan tanah sulfat masam pesisir (sering terdapat bersamaan) tidak dapat digunakan untuk lahan pertanian tanpa terlebih dahulu diberikan kapur, karena pada tingkat kemasaman dibawah sekitar pH 5,5, ion-ion aluminium dan pada bebberapa ion-ion tanah magnesium, dibebaskan dari mineral-mineral lempung dan beracun bagi kebanyakan jenis tanaman.
Kapur, Pengapuran Tanah Masam untuk Meningkatkan pH Tanah
(Ilustrasi)
Banyaknya kapur yang dibutuhkan untuk tanah dan pertanaman tropika berbeda dengan yang telah lazim berlaku di Amerika utara dan Eropa. Ini disebabkan karena tanaman tropika dan varietas-varietasnya teradaptasi lebih baik pada tanah-tanah masam daripada tanaman iklim sedang. Rizobia kacang-kacangan tropika, seperti dari kelompok kacang tunggak yang kadang-kadang digunakan untuk menginokulasi akar legum (kacangan) lain, dapat berfungsi pada tingkat pH yang lebih rendah.

Takaran pupuk yang dianjurkan bervariasi menurut  pH. Pada tanah yang sangat masam seperti tanah-tanah sulfat masam (Tanah sulfat masam biasanya adalah tanah yang terbentuk di daerah pantai), mungkin diperlukan sebanyak 5 ton/ha selama beberapa tahun untuk menetralkan asam yang terbentuk pada waktu pengairan atau pengatusan. Kebanyakan tanah tropika dengan pH dalam kisaran 5,0 sampai 5,5, akan lebih baik jika diberika perlakuan pengapuran kira-kira 1 ton/ha kapur.

Manfaat utama dari kapur adalah sebagai berikut:
1. Kapur meningkatkan mineralisasi nitrogen organik dalam, sisa-sisa tanaman, membebaskan nitrogen sebagai ion ammonium dan nitrat yang demikian tersedia bagi tanaman.
2. Kalsium dan magnesium, yang merupakan unsur pokok utama kapur, adalah hara esensial yang dapat membatasi pertumbuhan tanaman pada tanah-tanah tropika masam.
3. Pada tanah lempung masam, kapur dapat membantu memperbaiki kegemburan tanah dengan meningkatkan struktur remah atau gembur.

Tetapi tanah-tanah tropika dengan nilai pH lebih besar dari 6, tidak akan mendapatkan manfaat dari kapur bahkan pengapuran dapat merugikan atau merusak.

Bahaya pengapuran yang berlebihan dapat menampakkan diri dalam bentuk-bentuk sebagai berikut:
1. Tanaman menjadi klorotik (kuning atau pucat) karena kekurangan zat besi.
2. Seng, tembaga, mangan dan boron dapat menjadi kurang terlarutkan dan dengan demikian akan kurang tersedia bagi tanaman.
3. Fosfor dan molibdenum dapat menjadi kurang tersedia karena pH yang meningkat.

Cara paling lazim untuk mengatasi pengapuran yang berlebihan adalah dengan pemberian bahan organik, seperti pupuk organik hewani dalam jumlah yang besar.

Dalam usaha budidaya sayuran, karena tanah sering diolah, kapur dapat diberikan dalam takaran terbatas pada setiap pertanaman sampai kemudian pH tanah mencapai nilai 6. Beberapa pertanaman, terutama kerabat kubis sangat tanggap baik terhadap kapur dan takaran yang lebih tinggi biasanya menguntungkan, bahkan pada tanah yang relatif tidak masam.

Kapur harus disebarkan merata pada bedengan dan dibenamkan pada waktu pengolahan tanah bedengan.


Selasa, 15 Juli 2014

Pemulsaan Sebagai Suatu Perlakuan Budidaya Tanaman

Pemulsaan adalah penutupan tanah dengan sisa-sisa tanaman, jerami, sekam, potongan rumput dan bahan sisa lainnya. Pangkasan dari semak-semak legum (seperti semak penahan angin dari Sesbania atau Leucaena) menghasilkan mulsa yang sangat baik karena kandungan nitrogennya yang tinggi sehingga dapat menambah nitrogen tanah. 

Sekam padi tidak begitu efektif di lokasi yang berangin. Beberapa petani hanya menggunakan pupuk kandang dan kompos sebagai bahan mulsa, tetapi ini tidak dianjurkan karena banyak dari nitrogennya akan hilang bila pupuk kandang tidak dicampurkan atau dibenamkan ke dalam tanah. Lembaran plastik hitam kadang-kadang juga digunakan untuk menutup tanah, ini bermanfaat di daerah dataran tinggi tetapi di daerah dataran rendah tropika perlakuan ini dapat menjadi sangat panas untuk tanah dan tanaman. 

Adapun efek atau pengaruh utama mulsa untuk tanah dan tanaman adalah sebagai berikut:

1. Mulsa melindungi tanah atasan atau top soil dari erosi dan kehilangan struktur yang disebabkan oleh curah hujan yang lebat. Kehilangan struktur dan pergerakan tanah dapat sangat menghambat munculnya semai.

2. Kehilangan lengas berkurang sehingga perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman lebih meningkat.

3. Peningkatan suhu tanah yang tinggi dapat dikurangi.

4. Setelah mengalami dekomposisi atau penguraian, mulsa dapat menambah kandungan bahan organik tanah yang tergantung dari nisbah C/N-nya, dapat memperbaiki atau menahan hara (jika digunakan mulsa berkarbon tinggi seperti jerami, diperlukan tambahan nitrogen untuk menguraikannya sehingga cukup untuk pertumbuhan tanaman berikutnya, diperlukan sekitar 20 g/m pangkat 3 urea.

5. Untuk dampak yang lebih luas, walaupun tidak selalu dapat diasumsikan sama, pemulsaan dapat mengurangi pertumbuhan alang-alang yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Catatan: plastik hitam sangat efektif untuk mencegah pertumbuhan alang-alang.

menanam-tanaman
Leucaena atau lamtoro, semak penahan angin yang baik untuk mulsa
(Sumber foto: wildlifeofhawaii.com)

Minggu, 15 Juni 2014

Nematoda Sebagai Hama Pengganggu Tanaman

Selain serangga, Eriopydiae, Tikus, Siput dan Keong, sebagai hama pengganggu tanaman, masih ada jenis hewan lainnya yang juga menjadi hama pengganggu tanaman, yaitu Nematoda.

Nematoda adalah cacing-cacing bulat  yang ramping, biasanya kurang dari 2 mm panjangnya, yang umumnya terdapat dalam tanah.

Di kebun-kebun sayuran, dengan jenis tanaman dari suku Meloidogyne mengandung spesies-spesies hama penting yang menyebabkan bintil-bintil akar yang telah dikenal pada sejumlah jenis tanaman, termasuk kerabat Brassica (kubis-kubisan), yang kadang keliru membedakannya dengan penyakit akar pekuk (clubroot). Suku ini sering terlibat dengan keparahan yang meningkat dari banyak penyakit layu layu dengan mempermudah masuknya patogen seperti Fusarium spp. atau penyakit layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) melalui luka-luka makan. Spesies lain seperti Pratulenchus, Rorylenchus, Ditylenchus dan Helycotilenchus terlibat dalam kelemahan tanaman secara umum dan sering tidak diperhatikan meskipun kehilangan hasilnya dapat cukup besar. Perhatian khusus diperlukan terhadap nematoda dalam sistem irigasi. Spesies-spesies seperti Xyphenema, Longidorus, dan Trichodorus adalah vektor-vektor dari beberapa penyakit virus. tetapi mereka berarti penting dalam pertanian sayuran.

Untuk pengendaliannya, fumigan-fumigan tanah umum cukup efektif, meskipun sangat beracun. Berbagai nematisida butiran sekarang tersedia yang kurang berbahaya dalam aplikasinya (Terracur, Nemacur, Vydate, dan Temik). Fitosanitasi dan pergiliran tanaman merupakan kunci-kunci untuk menghindari menimbunnya nematoda yang merusak. Terdapat juga beberapa tanaman penjebak (trap crop) yang berhasil baik dengan cepat dapat menurunkan populasinya, atau dapat juga dengan menambahkan bahan organik pada tanah.

Karena terdapat banyak spesies saprofit dan karena beberapa diantaranya bersifat prasitik tersembunyi dan membahayakan, dianjurkan untuk mengadakan analisis tanah terhadap hama ini, terutama jika pertanaman tidak berhasil tumbuh subur tanpa ada hama atau penyakit yang jelas.

menanam-tanaman
(Nematoda, Hama Pengganggu Tanaman)